Tampilkan postingan dengan label Dunia Persilatan. Tampilkan semua postingan

Beberapa hal yang bisa menjadi penyakit hati para pendekar silat.



MANUSA MAH TEU AYA ELMU PANUTUPNA,KEDAH BAE AYA SALUHUREUNANA,SANAOS SARENG PADA JELEMA DEUI OGE (Rd.Obing 1938)

Pada kesempatan ini, saya ingin menguraikan beberapa hal yang  bisa menjadi penyakit hati para pecinta silat, semoga bisa menjadi instropeksi bagi kita semua.



Merasa alirannya paling hebat

Barangkali, penyakit hati yg satu ini merupakan penyakit yg paling banyak dihinggapi oleh para pendekar silat. Penyakit ini bisa menyerang mulai dari pemula hingga guru besar suatu seni beladiri. Para pemula mungkin lebih terbuka menyatakannya (omong besar, menjelekkan aliran lain dll), sementara para guru besarnya menanamkan kesombongannya dalam hati atau menunjukannya secara tidak langsung.
read more →

M. Popo Sumadipradja

M. Popo Sumadipradja, adalah putra tertua M. Utuk Sumadipraja meneruskan Perguruan Pencak Silat Sanalika. Beliau lahir tanggal 12 Januari 1919 di daerah Kopo Soreang, Bandung dengan nama Mohammad Sobari. Ibunya bernama Nyi Rd. Iyar Wiarsih salah seorang puteri Kanduruan Rd. Hardjadisastra Cianjur.
read more →

M. UTUK SUMADIPRADJA


Beliau lahir di Tarogong Garut tanggal 13 Mei 1897 dari ayah bernama Rd. Sastrajuda asal Talaga Kuningan dan Ibu bernama Nyi Rd. Asmirah keturunan Biru, Tarogong, Beliau mulai belajar Pencak Silat tahun 1910 dari Bapak Nata, seorang sepuh di Tarogong. Dari Bapak Nata ini beliau menerima ajaran dasar Jurus Tujuh.

Tahun 1920, ketika beliau sekolah di OSVIA Bandung, beliau berguru kepada Bapak Sukanta, pakar Aliran Cimande di Nyengseret,. Tahun 1925 beliau berguru kepada Rd. Haji Tarmidi (Na’ib Cikalong Cianjur), khusus Aliran Kari. Berbekal ilmu dari ketiga guru tersebut, tahun 1926 beliau mendirikan Perguruan Pencak SilatSanalika. ketika beliau menjabat camat Bojong Salam Banyuresmi Garut.

Tahun 1933, ketika menjabat Camat Cipatat Kabupaten Bandung, beliau berguru kepada Bapak H. Obing Ibrahim (Gan Obing) Cianjur, pakar pencak silat aliran Cikalong dan Sabandar, murid Rd. Haji Ibrahim.

Seiring dengan jabatannya sebagai seorang pamongpraja yang sering berpindah dinas, beliau mengembangkan Sanalika mulai dari daerah Garut, Ciamis, Bandung, Sukabumi sampai ke daerah Banten, khususnya ketika menjabat sebagai Wedana di Malingping, Banten Selatan.

Karir terakhir beliau tercatat sebagai Wedana Cicurug Sukabumi sekitar tahun 1940-an. Setelah pensiun, beliau menetap di Sukabumi sampai akhir hayatnya pada tahun 1957, dalam usia 60 tahun dan dimakamkan di kota ini.

Semasa hidupnya beliau sering menjalin silaturahmi dengan para tokoh pencak silat lainnya saat itu seperti Bapak Rd. Ema Bratakusumah (Bandung), Bapak H. Hasbullah (Cimande), Mama Nampon dan para pakar pencak silat lainnya.

Dari sekian banyak murid-murid generasi pertama Beliau di Garut 1926, tercatat diantaranya Bapak Ateng Karta (Bojong Salam), Bapak Iko (Pangalengan), Bapak Djaja (Cikananga). Bapak Kandi (Cipatat 1933), Bapak Ajun (Cikande 1935) dan Bapak Achmad Dimyati (Sukabumi 1940).
read more →